Home > ekonomi & pembangunan > Kemarau Tahun 2018 Diprediksi Lebih Panjang

Kemarau Tahun 2018 Diprediksi Lebih Panjang

Focusklaten (14/09/18) – Musim kemarau pada 2018 diprediksi bakal berlangsung lebih panjang dari biasanya.  Mengantisipasi kemarau panjang, masyarakat dihimbau untuk lebih waspada.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meterorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Harizal sebagaimana dikutip Tim Focuslaten dari Harian Republika (Jumat, 14/9) mengatakan penyebab kemarau lebih panjang karena menjelang paruh akhir tahun nanti ada peluang badai El Nino lemah pada September 2018 hingga Pebruari 2019.  Harizal menambahkan angin monsum barat terlambat masuk wilayah Indonesia yang dampaknya di bagian selatan equator awal musim hujan mundur dan musim panas  bertambah.

Sri Yuwana Haris Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten saat dikonfirmasi Tim Focusklaten (Sabtu, 15/9) terkait antiasipasi dampak kemarau menjelaskan Pemkab Klaten menggalakan  droping air sebanyak 900 tangki ke sejumlah desa rawan kekeringan.  Masing-masing tangki berkapasitas 5.000 liter berasal dari anggaran APBD 2018.  Sampai Jumat 14 September 2018 BPBD telah menyalurkan 342 tangki air bersih di 14 desa tersebar di 5 kecamatan rawan kekeringan. Terkait dampak kekeringan di Klaten Haris menjelaskan secara umum tidak ada. Dampak yang ada saat ini  masih kondisi tahunan dan masyarakat dihimbau tidak boros air kata Haris karena masih banyak masyarakat yang mengalami krisis air bersih.

 BMKG mencatat kemarau 2018 ada peningkatan jumlah titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  Di wilayah Jawa Tengah titik api ditemukan di lahan hutan Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar,  Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di Kabupaten Temanggung berbatasan Magelang.  Di Klaten tercatat Gunung Pegat wilayah Bayat beberapa tahun terakhir sering terjadi kebakaran dan dapat diantisipasi petugas dengan cepat (Jepe).

Baca Juga :

Leave a Reply