Antara Gandamana, Aryo Suman dan Hoax

pendidikan sosial & budaya

Klaten (08/03/19) – Sifat iri Arya Suman terhadap kenikmatan Raden Gandamana yang dipercaya menjadi mahapatih Kerajaan Hastina oleh Prabu Pandu Dewanata membuat satria Plosojenar menyiapkan seribu tipu muslihat.  Raden Gandamana difitnah dengan berbagai cara, agar Raden Pandu Dewanata marah sehingga jabatan mahapatih Hastina pindah ke tangannya.

Inilah lakon perebutan kekuasaan yang dipentaskan Dalang Ki Warseno Slenk dengan apik di acara Pentas Wayang Kulit semalam suntuk sekaligus Sosialisasi Program Keluarga Harapan kerja bareng antara Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia adan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten di Lapangan Desa Munggung, Karangdowo, Klaten (Kamis, 7/03/19).

Puncak cerita lakon klasik Mahabarata ini adalah ketika terjadi perang antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgodani dibawah Raja Tremboko.  Raja Pandu Dewanata bermaksud menaklukan Kerajaan Pringgodani dengan mengirim pasukan Hastina dipimpin Patih Gandamana.

Menebar berita bohong

Disinilah aksi jahat Arya Suman dimulai dengan menyebar fitnah dan berita bohong. Arya Suman membuat isu yang membuat pasukan Hastina bingung sehingga menyebabkan kekalahan dan Patih Gandamana tertangkap  selanjutnya dimasukan ke sumur tua dan ditimbun batu oleh. Kekalahan ini dilaporkan Arya Suman kepada Prabu Pandu Dewanata dan dikatakan kalau Patih Gandamana berkianat serta berbelot membantu musuh.

Akibat berita bohong ini membuat Raja Hastina Prabu Pandu Dewanata murka. Raden Gandamana akhirnya dicopot jabatannya dari kursi mahapatih selanjutnya diserahkan jabatan itu kepada Arya Suman.  Mengetahui difitnah Raden Gandamana marah dan merobek-robek muka Arya Suman yang semula tampan menjadi bermuka jelek. Sejak kejadian itu Arya Suman kemudian dijuluki Raden Sengkuni

Mengetahui sikap Raden Gandamana menganiaya Raden Sengkuni membuat Prabu Pandu Dewanata kian murka. Ayah dari anak-anak Pandawa ini akhirnya mengusir Raden Gandamana dari negeri Hastina.  Namun jiwanya yang besar kelak Raden Gandamana tetap  mengasuh para Pandawa dengan budi pekerti yang luhur. 

Dengan tipu muslihat akhirnya Raden Sengkuni memang tercapai cita-citanya menjadi mahapatih Kerajaan Hastina. Tapi kekuasaan itu  tidak mengantarkan Raden Sengkuni dalam kemuliaan sebagai seorang satria. Bahkan perangai buruk itu diwariskan saat mengasuh para Kurawa, anak Destarata. Raden Sengkuni dan para Kurawa  dengan serakah mengukuhi Kerajaan Hastina dari pewarisnya yang sah para Pandawa yang harus diakhiri dengan perang Baratayuda (Jepehumas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *