Jagat Kesenian Indonesia Berduka, Pesinden Kondang Dewi Marhaeningsih Tutup Usia

sosial & budaya

Klaten (08/03/19) – Berita duka kembali menggelayuti dunia seni Indonesia.  Pesinden terkenal asal Klaten Dewi Marhaeningsih (55) kembali kepangkuan Tuhan (Jumat,8/03/19) pukul 06.30 Wib di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.  Pesinden kondang yang pernah mewarnai jagat kesenian Jawa bersama dalang-dalang kondang seperti Ki Anom Suroto, Ki Mantep Sudarsono dan dalang lainnya itu meninggal dunia setelah hampir 3 tahun berjuang menghadapi sakit kanker payudara yang menghinggapinya.

Almarhummah meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta jam 06.30 Wib.  Pagi itu Ibu Dewi Marhaningsih berangkat dari rumah pagi-pagi untuk berobat dari sakit kanker yang menjangkitinya sejak 2017. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.  Ibu Dewi Marhaeningsih meninggal dunia tidak lama setelah tiba di rumah sakit.

Berita meninggalnya pemilik suara emas sebagai pesinden lagu-lagu Jawa  itu begitu cepat menyebar melalui pesan media sosial.  Tangis pecah di rumah duka yang beralamat di Trunuh, Trunuh, Klaten Selatan sesaat mobil jenasah tiba sekitar jam 09.00 Wib. Beberapa keluarga dari anak sampai suami tercinta Ki Suwita Radya S.Kar tak kuasa menahan tangis. Keluarga, tetangga dan kerabat sekejap telah memenuhi rumah duka yang tidak jauh dari sanggar kesenian Omah Wayang yang dikelola keluarga duka. Direncanakan jenazah akan dimakamkan Jumat (08/03/19) di Sasanalaya dukuh Trunuh, Trunuh, Klaten Selatan, Klaten sekitar jm 16.00 sore.

“Ibu Dewi sebetulnya ingin berobat ke rumah sakit sehingga pagi-pagi sudah berangkat diantar kerabat.  Hari ini menjadi jadualnya untuk berobat.  Sehingga kabar ini benar-benar mengagetkan keluarga” kata Adji Krestiadji salah satu kerabat keluarga(Jumat,08/03/19).

Kabar sakitnya seniman lagu-lagu Jawa itu sudah terdengar beberapa waktu terakhir. Tapi di mata para seniman dan kerabat semangat untuk meramaikan jagat kesenian Jawa tidak pernah surut di hati Ibu Dewi Marhaningsih.

“Ibu beberapa kali minta diajak pentas mas, walaupun tubuhnya harus menahan sakit. Itu ungkapan yang masih saya ingat di saat-saat terakhir ibu Dewi” kata Adji. (Jepehumas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *