Bupati Klaten Menangani Banjir, Dari Membantu Pengungsi Sampai Menggendong Bayi

politik & pemerintahan

Klaten (12/03/19) – Libur nasional Hari Raya Nyepi yang jatuh hari Kamis 7 Maret 2019 tak terasa libur bagi Bupati Klaten, Sri Mulyani  dan jajarannya.  Hujan lebat berskala ekstrim sehari sebelumnya,  membuat Bupati Klaten Sri Mulyani harus bekerja keras menangani korban banjir. Tidak itu saja menjenguk dan menyapa banjir, Bupati Klaten didampingi Jaka sawaldi Sekretaris Daerah Klaten,  Sri Puryono Sekretaris Provinsi Jawa Tengah dan sejumlah pejabat terkait ikut memantau kondisi hingga larut malam. Selain  menyerahkan sejumlah bantuan, Bupati Klaten Sri Mulyani sempat mengendong bayi warga di lokasi pengungsi.

Hujan disertai angin Rabu pekan lalu (6/03/19) bisa jadi menjadi hujan lebat selama musim penghujan tahun ini.  Hujan dengan intensitas tinggi dan waktu yang lama hampir tiga jam dampaknya langsung bisa dilihat sesaat.  Sungai Lunyu yang berada di tengah kota, airnya hampir menyentuh bagian atas bibir tanggul.  Jembatan Dengkeng di Kecamatan Cawas pada malam hari, posisi air sudah menyentuh bagian jalan.  Ribuan sawah di Desa Karangasem, Cawas nyaris tidak terlihat sebab  tergenang air.  Tidak sedikit warga Melikan yang langganan banjir, terpaksa harus mengungsi.

Menyikapi banjir ini jajaran Pemkab Klaten untuk selalu waspada dan meningkatkan kordinasi.

“Saya memerintah kepada camat di lokasi banjir untuk lebih siaga.  Sedangkan camat yang daerahnya tidak terdampak bencana banjir  untuk bisa membantu” pesan Bupati Klaten saat memberikan pengarahan dihadapan para camat di acara Sarapan Pagi Dengan Bupati (Sabtu, 9/03/19) di Pendopo Joglo Rumah Dinas Bupati Klaten.

Dampak banjir cukup meluas dirasakan di sejumlah kecamatan di Klaten.  Wilayah terdampak meliputi  Kecamatan Wedi, Bayat, Trucuk, Cawas, Karangdowo termasuk kecamatan Gantiwarno di mana ditemukan korban meninggal dunia.

“Seorang warga Gantiwarno ditemukan tewas di pematang sawah beberapa saat setelah terjadi hujan lebat.  Menurut saksi dari keluarga waktu itu korban ingin melihat kondisi sawah akibat hujan kemarin.  Keluarga curiga, sampai sare korban tidak segera kunjung pulang. Setelah disusul, ternyata korban sudah meninggal di tengah sawah.  Tidak ada tanda-tanda penganiayaan atau pun tersambar petir” kata Lilis Camat Gantiwarno melalui pesan media sosialnya (Jepehumas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *