Kapan Anda Terakhir Kali Memeluk Anak Sendiri Dengan Mesra?

pendidikan

Klaten (22/03/19)- Membangun kedekatan dengan anak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tidak saja dengan komunikasi lisan tapi juga melalui tindakan salah satunya dengan pelukan hangat orang tua kepada anak.  Mungkin sedikit yang tahu kalau kebiasaan memeluk anak saat sekolah jauh lebih efektif dari seribu kata nasehat.

“Biasakan memeluk anak ketika mereka hendak ke sekolah atau bepergian. Mulai saat ini, para orang tua perlu belajar berkomunikasi, salah satunya adalah kebiasaan memeluk anak.  Jangan sampai anak merasakan kenyamanan itu dari orang lain. Kedekatan  dan kenyamanan itu perlu dibangun dalam keluarga agar anak tidak jatuh dalam pergaulan yang salah” pesan Suparjo Kepala Unit Bimbingan Masyarakat Kepolisian Sektor Klaten Utara dalam acara Penyuluhan dalam rangka TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung I di Balai Desa Kecemen, Manisrenggo, Klaten (19/03/19).

Suparjo seorang polisi sekaligus sarjana Psikologi itu mengingatkan agar para orang tua perlu waspada penggunaan handphone bagi anak.  Sekali waktu handphone anak juga perlu dicek apakah ada konten pornografi yang sering dilihat.  Konten pornografi kata Suparjo sangat berbahaya yang meracuni anak perilaku anak sering mengakibatkan perilaku seks di luar nikah.

Sementara Auli Septa Arini salah satu penggiat anak Klaten di acara yang sama menekan pentingnya perlindungan anak.

“Ada dua alasan mengapa anak itu harus dilindungi. Alasan itu adalah anak memiliki harkat dan martabat yang sama dengan orang dewasa serta mereka belum bisa melindungi dirinya sendiri.  Sebanyak 161 kasus kekerasan anak tahun 2018 kebanyakan adalah masalah adopsi atau anak yang lahir tidak dikehendaki orang tuanya” kata Auli.

Auli Septa Arini mencontohkan kasus terakhir bayi dibuang beberapa waktu bisa menjadi pelajaran penting. Seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga bagi pelaku.  Saat ini korban bayi harus terpisah dengan ibunya.  Sementara sang ibu yang masih berstatus pelajar harus menghadapi kasus hukum. Belum lagi nasib pendidikan pelaku yang terancam gagal karena tidak bisa mengikuti ujian akhir. (Jepehumas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *