Nasib Bus Sekolah Klaten Butuh “Political Will”

pendidikan

Klaten (08/04/19)- Mimpi para pelajar Klaten untuk bisa menikmati bus sekolah yang ramah anak masih membutuhkan proses panjang. Kebijakan bus sekolah yang akan meneguhkan Klaten sebagai Kabupaten layak anak itu membutuhkan political will atau pemihakan para pengambil kebijakan agar moda pelajar bisa terwujud di bumi Klaten Bersinar.

“ Sebetulnya pengadaan bus pelajar di Kabupaten Klaten bukan urusan yang sulit.  Hanya untuk mewujudkan itu (bus palajar) membutuhkan political will pihak terkait. Banyak hal juga perlu juga dipersiapkan, khususnya dari sisi operasional maupun penganggarannya” kata Slamet Widodo selaku kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Klaten di sela-sela acara silaturakhim penyuluh pertanian dan Keluarga Berencana dengan Bupati Klaten di Rumah Dinas Bupati (Sabtu, 6/4/19).

Slamet Widodo menambahkan saat ini pemerintah sedang melakukan kajian dengan jawatan Damri untuk merancang program bus wisata di Kabupaten Klaten. Apakah bus sekolah bisa disinergikan dengan bus wisata akan menjadi bahan kajian.  Yang pasti banyak hal yang harus dibicarakan terkait keberadaan bus sekolah di Klaten.

Wacana bus sekolah mencuat saat acara penyuluhan di acara TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung I di Balai Desa Sapen, Manisrenggo, Klaten (20/03/19) lalu. Suparjo Kepala Unit Binmas Kepolisian Sektor Klaten Utara memprihatinkan banyaknya kasus kecelakaan pelajar Klaten yang tergolong tinggi.

“Saat ini banyak pelajar yang belum memiliki SIM tapi sudah mengendarai kendaraan di jalan raya. Kenyataannya bahkan anak SMP sudah banyak yang naik kendaraan.  Kalau sekolah melarang, kendaraan itu malah dititipkan warga sekitar.  Padahal usia itu (anak SMP) belum cakap untuk mengendarai kendaraan.  Saya kira bagus jika pemerintah menyediakan layanan bus sekolah untuk antar jemput pelajar” kata polisi lulusan sarjana Psikologi UGM itu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari unit Laka Lantas Polres Klaten sampai medio maret tercata ada 420 kecelakaan di jalan raya.  Separonya kasus itu korbannya adalah para pelajar dan pekerja (Jepehumas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *